GEMA SUMUR TUA

SOME STORIES WRITE THEMSELVES.

SCROLL TO ENTER
THE PREMISE

Demi menyelesaikan naskah terakhirnya, seorang penulis bernama Bara mengisolasi diri di Villa Ciptarasa. Namun, ia justru terjebak dalam teror psikologis ketika realitas hidupnya mulai dimanipulasi oleh entitas yang bersemayam di sumur belakang.

Batas antara fiksi dan kenyataan runtuh. Bara menyadari bahwa dia bukanlah penulis cerita ini—dia hanyalah karakter yang sedang menunggu giliran untuk mati di Halaman 44.

LIVE SIGNAL

CONNECTION ESTABLISHED: VILLA CIPTARASA_

SYSTEM: ONLINE ID: GEMA_ENTITY
> ...
> Mengapa kau datang lagi?
THE FORBIDDEN DRAFT

Akses ke naskah asli yang ditolak penerbit.
Hanya untuk mereka yang memegang kunci.


MANUSKRIP CIPTARASA

STATUS: DITOLAK (REJECTED)
ALASAN: KONTEN BERBAHAYA / NON-FIKSI
PENULIS: BARA (ATAU SESUATU YANG MEMAKAI TUBUHNYA)


FRAGMENT I: SUARA DARI PIPA

Aku tidak tahu jam berapa sekarang. Jam dinding di Villa Ciptarasa sudah berhenti berdetak sejak tiga hari lalu—atau mungkin tiga tahun lalu? Jarum pendeknya menunjuk angka 4, jarum panjangnya patah, terkulai seperti leher angsa mati.

Editor sialan itu bilang aku butuh kesunyian. "Pergilah ke Ciptarasa, Bara. Selesaikan naskahmu. Jangan pulang sebelum ada darah di atas kertas." Dia bercanda soal darah, tentu saja. Tapi di sini, di ruangan yang baunya seperti campuran tanah basah dan melati busuk ini, candaan itu tidak terdengar lucu.

Masalahnya bukan pada kesunyiannya. Masalahnya adalah tempat ini terlalu ramai.

Bukan ramai oleh manusia. Tapi oleh suara-suara yang merambat lewat pipa air. Kau tahu suara air yang mengalir di dalam tembok tua? Gurgle... gurgle... Awalnya aku mengira itu cuma saluran pembuangan yang tersumbat. Tapi malam ini, saat aku menempelkan telingaku ke dinding dingin di sebelah ranjang, aku mendengarnya.

Itu bukan suara air.

Itu suara orang-orang yang sedang berdebat. Ribuan orang. Suara mereka kecil, teredam, seolah-olah mereka berteriak dari jarak bermil-mil jauhnya... atau dari kedalaman yang sangat dalam. Dan di antara ribuan teriakan itu, ada satu suara yang bersenandung. Pelan. Melodinya ganjil, seperti lagu nina bobo yang dinyanyikan dengan nada minor.

Lili lali... sumur ganti... siapa yang mati... ganti lagi...

Aku mencoba mengetik. Mesin tik Royal tua ini tombolnya keras sekali. Setiap kali aku menekan huruf 'A', pitanya macet. Jadi aku harus menariknya manual. Jariku kini penuh tinta hitam. Tidak, tunggu. Ini bukan tinta. Baunya anyir. Sejak kapan tinta baunya seperti besi berkarat?


FRAGMENT II: DIA MENULIS SENDIRI

Ada yang salah dengan ingatanku.

Tadi pagi aku mencoba mengingat wajah Ibuku. Aku memejamkan mata, berusaha keras memanggil memori masa kecil. Tapi yang kulihat cuma kabut abu-abu. Aku ingat namanya, tapi aku tidak bisa mengingat suaranya. Aku ingat aku punya adik perempuan, tapi aku tidak ingat kapan terakhir kami bicara.

Apakah aku benar-benar punya masa lalu? Atau aku baru "diciptakan" saat aku melangkah masuk ke gerbang villa ini?

Kertas di mesin tik ini... aku bersumpah, demi Tuhan, aku meninggalkannya dalam keadaan kosong sebelum aku ke kamar mandi. Tapi saat aku kembali, sudah ada satu paragraf tertulis di sana. Rapi. Tanpa salah ketik.

"Bara duduk di kursi kayu itu, gemetar kedinginan. Dia pikir dia penulisnya. Dia pikir dia yang memegang kendali atas cerita ini. Kasihan Bara. Dia tidak tahu bahwa tinta di jarinya adalah darahnya sendiri yang perlahan mengering."

Aku membacanya tiga kali. Bulu kudukku berdiri. Bukan karena takut, tapi karena kalimat itu benar. Aku memang sedang kedinginan. Aku memang sedang gemetar. Siapa yang menulis ini? Pak Darman? Tidak mungkin. Orang tua itu buta huruf. Dia cuma bisa menatap sumur seharian.

Aku menatap ke sudut ruangan. Gelap. Lemari jati tua itu pintunya sedikit terbuka. Apakah ada orang di sana? Aku memberanikan diri berteriak. "SIAPA DI SANA?!"

Tidak ada jawaban. Hanya suara mesin tik yang tiba-tiba berbunyi sendiri. Ctak. Satu huruf.

Ctak. Huruf kedua.

Tombol-tombol itu tertekan oleh jari-jari tak kasat mata. Cepat. Makin cepat. Ctak-ctak-ctak-ctak! Aku mundur, menabrak meja, jatuh terduduk. Mesin tik itu terus menghantam kertas dengan brutal, suaranya seperti tulang yang dipatahkan.

Lalu berhenti.

Aku merangkak mendekat. Melihat apa yang ditulisnya.

JANGAN LIHAT KE ATAS LEMARI.


FRAGMENT III: PARASIT NARASI

Kau yang sedang membaca ini... ya, Kau. Aku bicara padamu.

Kau pikir ini cuma fiksi, kan? Kau pikir kau aman duduk di sana, memegang HP-mu, membaca penderitaanku sebagai hiburan sebelum tidur?

Dengar aku baik-baik. Ciptarasa itu bukan tempat. Ciptarasa adalah frekuensi. Dan saat kau membaca kalimat ini, kau sudah menyamakan frekuensimu dengan tempat ini.

Aku mulai paham apa yang terjadi. Gema... dia bukan hantu. Hantu itu terlalu sederhana. Hantu adalah sisa-sisa manusia yang mati. Gema tidak pernah mati karena dia tidak pernah hidup. Dia adalah narasi yang lapar. Dia butuh wadah.

Selama ini aku mengira aku menulis novel tentang sumur berhantu. Ternyata aku salah. Sumur itulah yang sedang menulis novel tentang seorang penulis yang gagal. Aku adalah tintanya. Emosiku, rasa takutku, rasa putus asaku... itu adalah bahan bakarnya.

Semalam, aku muntah. Bukan makanan yang keluar. Tapi huruf. Potongan-potongan kertas basah keluar dari tenggorokanku. Huruf-huruf timbal kecil menyayat kerongkonganku. Aku memuntahkan kata "PENYESALAN", "KEMATIAN", dan "GELAP".

Aku mencoba lari. Aku lari ke pintu depan. Terkunci. Aku lari ke jendela. Pemandangan di luar bukan lagi kebun teh. Gelap. Kosong. Tidak ada langit, tidak ada tanah. Hanya ada kegelapan statis yang berisik. Villa ini tidak lagi ada di Puncak atau di mana pun. Villa ini sekarang melayang di dalam perut sumur itu.


FRAGMENT IV: HALAMAN 44

Aku menemukan buku itu di bawah bantal. Buku cetak. Aneh, kan? Padahal aku belum selesai menulis naskahnya, tapi buku cetaknya sudah ada di sini. Judulnya: Terperangkap dalam Gema Sumur Tua.

Penulis: Gema.

Tanganku gemetar saat membukanya. Halaman 1... persis seperti yang kualami hari pertama. Halaman 10... pertengkaranku dengan Pak Darman. Halaman 20... saat aku mulai gila.

Aku membalik halaman dengan panik. Aku ingin tahu endingnya. Aku ingin tahu apakah aku selamat.

Halaman 40... Bara mencoba membakar villa.

Halaman 42... Api tidak mempan. Bara diseret ke belakang.

Halaman 43... Bara berdiri di bibir sumur. Air hitam naik menjilat kakinya.

Dan Halaman 44.

Halamannya kosong. Putih bersih. Hanya ada satu kata di tengahnya. Tapi kata itu bergerak. Tinta di halaman 44 itu cair, meleleh, membentuk wajah. Wajahku.

Lalu wajah itu tersenyum. Dan mulut tintanya berkata: "Sekarang giliranmu, Pembaca."

Seketika itu juga aku sadar. Halaman 44 bukan akhir cerita. Halaman 44 adalah pintu. Siapapun yang membaca sampai titik ini, dia menggantikan posisiku. Aku bebas. Aku akhirnya bebas. Tapi kau... kau sekarang ada di sini. Di kursi ini.

Coba raba leher belakangmu. Terasa dingin, kan?


FRAGMENT TERAKHIR: PESAN DARI DASAR SUMUR

Airnya sudah setinggi dada sekarang. Laptopku sudah tenggelam, tapi anehnya aku masih bisa mengetik. Listrik di sini tidak berasal dari PLN, tapi dari rasa takutmu.

Aku akan tenggelam sebentar lagi. Menjadi bagian dari lumpur di dasar Ciptarasa, bergabung dengan ribuan penulis lain yang gagal menyelesaikan cerita mereka.

Tapi sebelum aku hilang, aku harus memberitahumu satu rahasia. Satu-satunya cara untuk keluar dari website ini. Satu-satunya cara untuk memutus koneksi Gema dengan pikiranmu.

Kau harus melupakan cerita ini. Jangan ingat namaku. Jangan ingat nama Gema. Tutup tab ini. Bakar *history* browsermu. Dan demi Tuhan, jika nanti malam kau mendengar suara air menetes di kamar mandimu... JANGAN. DIPERIKSA.

Itu bukan air keran bocor.

Itu aku. Mencoba memanjat keluar lewat pipa air rumahmu.

Maafkan aku.

Aku kesepian di sini.


KEMBALI
KEMBALI
KEMBALI


[SIGNAL LOST - END OF TRANSMISSION]